Jumat, 08 Juni 2012

BAGAIMANA MENJADI KEPALA SEKOLAH PROFESIONAL?

Sesuai laporan Bank Dunia, salah satu penyebab makin menurunnya mutu pendidikan persekolahan di Indonesia adalah kurang profesionalnya para kepala sekolah sebagai manajer pendidikan di tingkat lapangan.


Kepala Sekolah adalah merupakan jabatan fungsional yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Maka muncullah terminology bagaimana menjadi kepala sekolah profesional. Profesionalisme mencakup budaya profesi, kualifikasi, kompetensi, ketrampilan, komitmen, konsisten, etos kerja, kode etik dan dedikasi.

Syaiful menyatakan profesionalisme memiliki aturan dan komitmen jabatan yang akan diberikan kepada pelayan masyarakat agar secara khusus pandangan-pandangan jabatan dikoreksi secara keilmuan dan etika sebagai pengukuhan terhadap profesionalisme. Profesionalisme tidak dapat dilakukan atas dasar perasaan, kemauan, pendapat atau semacamnya, tetapi benar-benar dilandasi oleh pengetahuan secara akademik.

Kinerja dan produktifitas kepala sekolah profesional harus dapat diukur dengan para meter yang ada, yakni standar pelayanan minimal. Standar pelayanan minimal mengacu kepada konteks silsilah budaya pendidikan yang ada disekolah. 

Kegiatan manajerial sekolah yang biasanya mencakup dalam lingkup manajemen pendidikan. Komponen manajemen pendidikan meliputi 5-M, yakni : Sumber daya manusia (man), finansial (money), substansi (material), metode (method) dan fasilitas (machine).

Kepala sekolah sebagai sumber daya manusia yang profesional harus mampu mengelola sekolah sesuai dengan fungsi sekolah sebagai wiyata mandala.
Kepala sekolah sebagai manajer harus mampu mengelola keuangan sebagai pembiayaan pendidikan di sekolah baik pembiayaan langsung maupun pembiayaan tidak langsung.
Kepala sekolah sebagai guru harus mampu memberikan bimbingan kepada semua warga sekolah sesuai tugas pokok dan fungsinya.

Beroriantasi kepada mutu
Di era globalisasi ini, kepala sekolah dituntut untuk memiliki visi dan misi yang jelas, strategi pendidikan yang utuh dna berorientasi kepada mutu.
salah satu strategi yang dikenal hingga sekarang yaitu manajemen mutu terpadu, hal ini sudah diterapkan di dunia bisnis dan terkenal dengan istilah Total Quality Management (TQM). Pada intinya, sekolah harus terus menerus memperbaiki kualitas layanan sehingga fokusnya diarahkan ke pelanggan diantaranya peserta didik, orang tua, pemakai lulusan, guru, karyawan, pemerintah dan masyarakat.

Minimal ada 5 (lima) layanan yang harus dilaksanakan kepala sekolah agar pelanggan puas. Pertama, layanan sesuai yang dijanjikan (reability), mampu menjamin kualitas pembelajaran (assurane), iklim sekolah yang kondusif (tangible), memberikan perhatian penuh kepada peserta didik (emphaty), cepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik (responsivines).

Kepala sekolah dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses pembelajaran dengan melakukan supervisi kelas, membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Selain itu, kepala sekolah melakukan tukar pikiran, sumbang saran dan studi banding antar sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah yang lain.

Dengan demikian Kepala sekolah dan guru harus meningkatkan profesinya agar memiliki kualitas yang sejajar dengan pendidik di negara-negara maju. Misalnya di Amerika, Jepang dan negara maju lainya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Loading

 
Design by Dian Cakra Wiyatama